Sabtu, 15 Oktober 2011

Surat dari Ukui


Surat Pertama,
Ukui, 24 Maret 2011

Dear Kawan,
“Hmm, Pekanbaru..”
Begitulah statusku di jejaring sosial facebook  beberapa saat sebelum aku tiba di kota yang sarat dengan kegiatan industri ini. Pekanbaru. Tidak banyak yang aku ketahui tentang kota ini sebelumnya, hanya beberapa saja: Sungai Siak, kelapa sawit, pabrik kertas dan tentu saja udaranya yang sangat panas. Selebihnya aku hanya mengandalkan informasi dari teman-teman yang  telah lebih dulu menginjakkan kaki di bumi lancang kuning. Minggu, 28 Februari 2011, ketika waktu tepat menunjukkan pukul 10.20 wib pesawat yang kutumpangi dari Jakarta mendarat selamat di Bandara Sultan Syarif Kasim II. Aku menunggu saatnya turun dari pesawat sambil mengamati hiruk pikuk penumpang lainnya yang mulai sibuk dengan barang bawaan. Sembari menunggu kuamati seorang pramugari yang kedengarannya sulit melafalkan huruf “R” dan bunyinya berubah menjadi “L”. Lucu jadinya.

Kota ini asyik juga, pikirku. Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Pekanbaru memiliki fasilitas yang lengkap. Hanya saja cuacanya sangat panas sebab letaknya di daerah tepat di bawah garis khatulistiwa sehingga matahari terasa sangat dekat dengan ubun-ubun. Meskipun sudah terbiasa dengan cuaca ekstrim seperti di kota kelahiranku, Aceh,  tapi memang kuakui di sini panas, Kawan. Emmm, banyak yang ingin kuceritakan tentang tempat ini, Kawan, hanya saja masih terbatas pengetahuanku. Tunggu sampai aku mengeskplor lebih banyak lagi, aku janji akan menceritakannya padamu. Bersabarlah....
Kawan,
Setibanya di kota ini, aku disambut oleh temanku Ricardo serta Managerku Pak Medi yang sudah menunggu sejak pagi. Mereka sudah bersiap untuk melakukan perjalanan ke lokasi kantor dan tempat tinggal sementara di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.  Seketika aku membayangkan lokasi kebun kelapa sawit lengkap dengan pabrik minyaknya, tempat tinggal karyawan, dan fasilitas kebun lainnya. Oh ya, hampir aku lupa menjelaskan tujuanku ke sini, aku terlalu asik bercerita padamu tentang lokasi yang baru aku datangi ini. Oke, singkat saja ya, Aku sekarang berkerja untuk sebuah yayasan sosial keluarga, dimana yayasan ini mempercayaiku sebagai Officer untuk wilayah  Riau. Project ini dilaksanakan di tiga provinsi yaitu Riau,  Jambi dan Sumatra Utara. Programnya fokus di bidang pendidikan.
Kawan, tentunya kamu juga bisa membayangkan bahagianya perasaanku bisa berkerja dan dengan orang-orang sukses dan peduli terhadap pendidikan yang layak untuk Indonesia. Aku percaya, meskipun belum bisa menyentuh ke semua lapisan masyarakat tetapi setidaknya upaya yayasan ini bisa memberikan kontribusi bagi perbaikan kualitas pendidikan yang lebih layak di negeri ini. Kualitas, hal sederhana yang sering dilupakan oleh banyak orang sebab republik ini terlalu latah dengan kuantitas.

"Roler Coster"

“Kita hampir sampai, kira-kira satu jam lagi lah” Ricardo menginformasikan. Cukup lama juga perjalanan yang kami tempuh, sudah hampir empat jam, tapi aku menikmatinya karena memang aku suka jalan-jalan. Sepanjang perjalanan aku bisa melihat truk-truk dengan ukuran “jumbo” yang memiliki roda entah berapa, terlalu banyak jika kuhitung cacahnya. Alih-alih bisa menghitung, aku malah terpikir betapa kasihan awak truk tersebut mengganti ban jika tiba-tiba kempes di tengah jalan. Tidak kalah menarik dari pemandangan truk besar, perjalananku kali ini sungguh istimewa, bayangkan naik mobil seperti menaiki roller coaster sebab jalan yang dilalui serupa lirik lagu “naik-naik ke puncak gunung”. Banyak tanjakan dan turunan curam yang harus dilalui.


Akhirnya kami tiba di rumah, mereka menyebutnya mess kecil (pasti ada mess besar juga). Lokasinya berada di komplek perumahan staff di salah satu Perusahan yang menjadi mitra dalam Project ku ini. Tempatnya sangat alami, asri dan segar dan tentu saja di tengah perkebunan kelapa sawit.  Sekitar 100 meter dari mess kecil inilah kantor kantor kami berada. Kawan, bayangkan pagi-pagi aku masih bisa bisa mendengarkan suara burung dengan segelas kopi yang kunikmati sambil bekerja di depan komputer. Hmm, jarang ada kantor seperti ini kawan, percayalah padaku.
Kurasa cukup perkenalan awalku di tempat ini.
Kawan, ada sebuah pertanyaan yang barangkali jawabannya sudah sama-sama dimaklumi oleh setiap telinga yang mendengarnya. Apa gunanya pendidikan? Toh banyak juga orang yang sukses tanpa perlu mengenyam pendidikan tinggi. Aku tidak akan membahasnya di sini, itu serupa pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab serta terlalu klasik untuk dibahas. Yang kita perlukan adalah membuka pikiran dan hati untuk memahami realita pendidikan di negeri kaya raya ini.
Kawan, kurasa kamu akan tersentuh jika melihat kondisi pendidikan di Ukui ini, paras optimis anak-anak yang memiliki keinginan kuat untuk maju dan menggapai cita-citanya harus berjuang dengan apa adanya. Sekolah dengan keterbatasan personal dan kualitas tenaga pendidik, sarana yang masih belum memadai, ditambah lagi dengan kurangnya buku pelajaran dan buku bacaan.
Pernah sekali waktu diadakan pelatihan untuk guru di salah satu sekolah dasar, SDN 016 Air Hitam. Fasilitator menjelaskan materi pelatihan dan memberikan beberapa contoh portofolio pelaksanaan pendidikan yang kebetulan lokasinya di wilayah perkotaan. Ada seorang guru yang berbisik kepada teman sebelahnya, kebetulan aku berada tidak jauh dari tempat mereka dan berhasil mendengar kalimat yang diutarakan sang Guru.
“Itu kan di kota, ini kan di kampung. Pasti beda lah.” Bisik sang Guru.
Aku membatin sebal  mendengarnya.
Aku kaget, apa yang membedakan antara “kota dan desa?” dalam hati aku geram sebab desa merupakan tanah kelahiranku, tempat di mana aku berasal. Setahuku Tuhan tidak membedakan identitas bayi yang baru lahir apakah ia “anak desa” atau “anak kota”. Tuhan juga tidak menciptakan otak “anak desa bodoh” dan “anak kota pintar”. Percayalah, beda desa dengan kota hanyalah pada fasilitasnya dan itu bukanlah alasan yang menjadi penghalang bahwa pendidikan di desa lebih buruk daripada di perkotaan. Apa sih sebenarnya inti dari sekolah itu? Sekolah sederhana saja, ada murid, guru dan buku, itu saja. Tempatnya di hutan, di taman, di sawah, di gunung di mana saja asalkan aman dan tenang. Semua kembali ke manusianya, sebagai creator dan pelaksana, mau tidak berubah dari kebiasaan yang tidak baik ke kondisi yang baru dengan cita-cita dan keinginan yang kuat untuk bangkit.
Tantangan dalam peningkatan pendidikan di tempat ini adalah kebiasaan dan sikap yang antipati terhadap hal-hal yang baru. Pemikiran-pemikiran yang masih sempit dalam memaknai pendidikan dan hanya mengunakan asumsi bukan ide yang kreatif dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. 
salah satu sekolah di daerah terpencil di Kabupaten Pelalawan, Riau

Kawan, faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan tidak hanya di lingkungan sekolah. Di rumah orang tua juga memiliki keharusan untuk bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Tidak karena anaknya dimasukkan ke sekolah dan setelah itu orang tua lepas tangan soal pendidikan. Orang tua sangat berperan dalam hal pendidikan anaknya dengan cara mengawasi dan membimbing mereka ketika di rumah. , misalnya mengawasi anaknya ketika mereka dirumah? Apakah mereka belajar atau tidak, apakah anak-anaknya mengerjakan pekerjaan rumah, disini lah kunci kesuksesan dan keberhasilan pendidikan. Tanpa adanya komunikasi dan hubungan yang baik antara orang tua dan pihak guru/sekolah, maka anak-anak merekalah yang menjadi korban. Kuharap kamu sependapat denganku, Kawanku.
“Membaca buku, ini yang mungkin kekurangan kita disini”, ujar seorang kepada guru kepada temannya sambil berjalan setelah pelatihan Guru sore itu.
Ada benarnya apa kata guru tadi, selama aku di sini dan mengunjungi beberapa sekolah serta perpustakaan mereka, masih sedikit sekali murid sekolah yang memanfaatkan perpustakaan. Mungkin sebelumnya mereka belum tahu fungsi perpustakaan ditambah lagi sekolah belum mengelolanya dengan baik. Sebagian sekolah masih takut buku-buku perpustakaan rusak akibat dibaca oleh murid atau hilang. Tetapi sudah juga ada beberapa sekolah yang telah berani meminjamkan buku untuk dibawa pulang. Salute!
Ini tantangan kawan, memastikan guru dan masyarakat bahwa membaca buku itu penting. Meningkatkan minat baca untuk semua pihak mulai dari anak didik, guru, serta orang tua menjadi krusial untuk segera dilaksanakan. Baca, baca, baca.
Kawan, aku berencana untuk membuat para guru itu menjadi  lebih gaul (in positive meaning tentunya). Tidak muluk-muluk, aku berharap mereka bisa saling bercerita tentang keadaan sekolah dan masalah-masalah yang dihadapi oleh sekolahnya  masing-masing. Kemudian aku akan mengadakan pelatihan-pelatihan yang bisa menambah ilmu guru-guru di sini sehingga meskipun sedikit hal tersebut bisa membantu memperbaiki kualitas pendidikan di daerah ini. Hal tersebut perlu dilaksanakan melalui sinergi dari semua stakeholder,  komunikasi dan pertemuan antar guru sekolah dan orang tua murid serta peran serta masyarakat akan membuat perbaikan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sharing informasi dan pengalaman antar sesama guru akan bisa menjadi awal kemajuan dan kebangkitan ilmu pendidikan di daerah ini.

Suasana Pelatihan guru di sebuag Sekolah Dasar di Kabupaten Pelalawan, Riau

Kawan, cukup dulu surat pertama ku ini, banyak sekali yang ingin aku tulis lagi di surat kedua ku nanti, terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca surat ini, aku berharap ada hal yang bermanfaat yang bisa kamu petik.
Satu lagi kawan, koneksi internet disini buruk sekali, hehe

Salam,

Kurniawan



0 komentar:

Posting Komentar